• Undang Suryaman dan Pendidikan Untuk Yang Miskin - Validnews

    BANDUNG – Bangunan berlantai tiga berwarna krem itu kokoh dan asri terlihat menjulang di antara himpitan permukiman penduduk yang padat di Kampung Babakan Loa, RT 03, RW 12 Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ada tertulis Raudatul Athfal (RA) Nafilatul Husna di temboknyaIni merupakan pendidikan dasar setingkat Taman Kanak-Kanak (TK) yang berada di bawah Kementerian Agama.

    Ada beberapa ruang kelas di RA. Tiap kelas dicat dengan pelbagai warna. Kuning, merah, dan biru adalah yang dominan. Ada pula origami burung, yang menjadi tirai pada jendela. Di Antara kelas-kelas, ada perpustakaan.

    Pada hari biasa, anak-anak berusia empat sampai enam tahun bermain dan belajar di Nafilatul Husna. Tempat pendidikan itu bukan sembarangan. Pendirinya yang membuat Nafilayur Husna istimewa. Seorang juru parkir di Universitas Padjajaran (Unpad) bernama Undang Suryaman adalah inisiator dan pendiri institusi pendidikan itu.

    Saat Validnews menyambangi sekolah tersebut pada Sabtu siang, 8 Februari 2020 lalu, kegiatan belajar telah usai. Undang sedang sibuk membersihkan bagian halaman sekolah dan merawat berbagai tanaman hidroponik di lantai dua. Lantai tersebut digunakan untuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), ruang guru, dan ruang komputer. 

    “Saat kecil, saya ingin bermanfaat bagi banyak orang, terutama pendidikan,” urai Undang yang kerap disapa sebagai Bang Jack, Sabtu (8/2).

    Keinginan itu dikejarnya. Pengalaman kemiskinan yang dia alami tatkala masih kecil menjadi penguat niat. Orang miskin harus tetap bisa sekolah. Itu selalu di benaknya.

    Undang terlahir dari keluarga sederhana pada 25 Mei 1976 di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut. Ada enam anak di keluarga petani sederhana itu. Hanya Undang, anak laki-laki. Dia punya tiga kakak perempuan. Dan, dua adik perempuan kandung.

    Guna mengurangi kebutuhan keluarga anak petani ini sering pula membantu orangtuanya Bersama saudara lainnya. Dari semua bersaudara, Undang cukup beruntung, Dia saja yahg bisa memiliki ijazah SD. Kelima saudarinya, berhenti sekolah setelah kelas IV SD.

    "Setamat SD saya inginnya lanjut sekolah, tetapi khawatir dengan kondisi ekonomi orang tua jadi tidak lanjut. Seringkali saat saya hendak ke sawah bawa cangkul, lewat depan sekolah, saya ngintip di balik pintu," cerita Undang mengenang masa lalunya.

    Meski hanya lulus SD, Undang tidak pernah menyesali orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah lebih tinggi. Malah, dari kondisi tersebut, Undang kecil memimpikan, hidupnya memberikan manfaat dalam bidang pendidikan.

    Merantau
    Saat ia berusia 16 tahun, Undang bekerja sebagai juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad di kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Itu pekerjaan pertama dia saat jauh dari rumah. Dari profesi ini, dia mulai menabung.

    Hingga akhirnya pada 2012, dengan dukungan istrinya Yani Novitasari yang dinikahi pada 1997, dia mulai bisa merealisasikan mimpi. Undang mendirikan taman pendidikan Al-Quran (TPA). Kebanyakan, siswanya usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).Pendirian TPA itu bukan lantaran dia sudah berkelebihan. Dengan empat orang anak, Undang dan istri kala itu jauh dari berkecukupan.

    "Waktu itu kondisi ekonomi keluarga tengah terpuruk, anak-anak sudah mulai membutuhkan biaya besar untuk sekolah. Namun, saya sudah keburu dendam ingin mendirikan TPA," urai Undang.

    Yang menjadi pengeras niat, justru adanya TPA di sekitar kediamannya. Di sana para murid harus mengeluarkan biaya. Dia merasa, tak perlu juga ada biaya untuk belajar agama. Bermodal uang Rp300 ribu dari tabungan, dia  membeli Al-Quran, Iqra, dan peralatan tulis. Mulailah TPA itu didirikan.

    Guna memenuhi kebutuhan hidup dan TPA, Undang bekerja sebagai pencuci mobil, di kawasan Jalan Buah Batu, Kota Bandung. Sedang sang istri, Yani pun bekerja menjadi asisten rumah tangga (ART) di salah satu perumahan di Kabupaten Bandung.

    Sekolah ‘Odong-odong’
    Kala pertama membuka TPA, Yani yang lulusan SMA menjadi pengajar untuk 10 muridnya. Undang dan istrinya bukan mendapatkan dukungan untuk mengembangkan sekolahnya tersebut. Tokoh masyarakat dan tetangga malah mencibir mereka.

    "Mungkin karena pendidikan kami tidak tinggi dan sekolah belum ada legalitas bahkan ada yang menyebut sekolah odong-odong (mainan anak-anak yang menyerupai karakter tertentu). Bahkan istri pulang mengajar seringkali menangis mendengar berbagai cibiran tetapi saya selalu bilang jangan diambil hati," nasihat Undang kala itu.

    Namun, nasib berubah. Sebaliknya, siswanya pun terus bertambah. Adapula dua relawan yang mau membantu.

    Meskipun tidak mengantongi ijazah pendidikan tinggi, Undang berusaha melegalitaskan sekolahnya. Dia coba cari informasi dari kenalannya di kampus maupun tempat lain. Akhirnya pada 2014, Undang mendapatkan legalitas sekolahnya menjadi yayasan bernama Nafilatul Husna Ataullah. Dari sini, siswanya mendapatkan ijazah kala lulus sekolah.

    Nama Yayasan Nafilatul Husna sendiri diambil dari nama anak bungsunya; Nafila dan keponakannya Husna. Sementara Ataullah berarti penambahan ibadah atas karunia Allah SWT.

    Keberuntungan tak melulu didapat. Sekitar 2014 ada kenalannya yang mau membayarkan sewa rumah di samping masjid. TPA dan RA itu pun pindah ke rumah tersebut. Namun sayang, pembayaran sewa itu tak bisa dilanjutkan.

    Ia dan sang istri tak urung diri. Keduanya meminta izin agar sang mertua mau meminjamkan rumah. Gayung bersambut, Undang tidak keberatan ruang tamu berukuran 16 meter persegi dan dua kamar yang masing-masing berukuran 10 meter persegi (m2), disulap menjadi ruang kelas dan perpustakaan. Sementara pada malam hari dipakai untuk mereka beristirahat. Keterbatasan ruangan ini membuat murid RA hanya dibatasi 18 anak, sementara TPA 40 siswa.

    Kemudian sekolah gratis ini mulai mendapat perhatian. Pada 2016, salah satu stasiun tv swasta bahkan memberikan donasi.

    Sumbangan itu digunakan untuk membeli tanah seluas 140 meter persegi. Sisanya untuk pembangunan Gedung. Ditambah dengan dana pribadi dan donasi dari para dermawan, kini gedung sekolah itu bisa berlantai tiga.

    Niatan untuk membuat orang miskin bersekolah tetap ada di benaknya. Sampai sekarang Undang hanya menerima siswa dari kalangan tidak mampu. Undang memberikan persyaratan khusus untuk ini. Selain harus memiliki surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari Kepala Desa, dia juga melihat langsung kondisi rumah calon muridnya.

    Kini, ada 60 anak bersekolah di RA, sementara TPA mencapai 220 anak.

    "Untuk siswa RA ada 25% atau 15 murid yang mampu memaksa untuk sekolah di sini, sehingga mereka membayar Rp35.000 per bulan, sedangkan sisanya gratis. Murid TPA semuanya tidak dipungut biaya," tutur Undang.

    Selain di sekolah itu, Undang juga membina 90 anak yatim yang bersekolah secara gratis di SMP dan SMA. Untuk membiayai pendidikan mereka, selain dari saku pribadi dan donatur, sejak setahun yang lalu Undang mengembangkan pertanian dengan sistem hidroponik di halaman gedung sekolahnya.

    "Tumbuhan yang ditanam, bisa dijual seperti untuk obat maupun kebutuhan dapur seperti seledri. Mereka pun diajarkan bagaimana cara budidaya," cerita Undang.

    Kinidia juga pun menyekolahkan para pengajar di sekolah. Agar mereka yang rata-rata lulusan SMP dan SMA, bisa melanjutkan pendidikan di Strata 1 (S1). Walhasil, dari 11 guru di sekolah ini, ada satu orang yang telah menjadi sarjana dan beberapa orang lainnya tengah menyelesaikan sarjana dalam program studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kepada para guru, sekolah ini rata-rata memberikan honor Rp300 ribu–Rp 400 ribu per bulan, berdasarkan masa bakti di sekolah ini. Selain guru tetap, setiap akhir pekan ada juga para mahasiswa dari berbagai komunitas di perguruan tinggi turut serta mengajar.

    Meskipun sibuk mengurus sekolah, Undang dan istri tetap memerhatikan anak-anaknya. Dua anaknya yang pertama dan kedua kini tengah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Anak ketiganya masih duduk di SMA, dan anak keempatnya di SMP. Sementara, istrinya melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka.

    Niatan membuka akses pendidikan bagi warga miskin juga dilakoninya dengan mendirikan pondok pesantren di Kabupaten Garut, yang telah memiliki 70 santri. Mereka berasal dari kalangan tidak mampu yang mengaji dan mondok secara gratis.  

    Karena menaruh perhatian dalam bidang pendidikan, sejak 2016 hingga sekarang beragam penghargaan telah Undang terima baik dari pemerintah maupun swasta. Bahkan pada 2017, dia menerima anugerah PAUD tingkat nasional. Undang pun sering mendapatkan undangan sebagai pembicara, dalam berbagai seminar di perguruan tinggi.

    Uniknya, masih saja ada warga di lingkungan sekitar kediamannya yang masih mencemooh pendidikan besutan juru parkir ini. Terhadap hal ini, Undang mengaku bergeming.

    "Cibiran sudah jadi makanan sehari-hari. Saya suka belajar pada orang-orang yang sukses bagaimana proses mereka sampai ke sana. Mungkin saya tidak bisa seperti mereka yang menghadapi persoalan lebih berat," tutupnya. (Yatni Setyaningsih)

    Let's block ads! (Why?)



    "pendidikan" - Google Berita
    February 17, 2020 at 06:41PM
    https://ift.tt/324AnDV

    Undang Suryaman dan Pendidikan Untuk Yang Miskin - Validnews
    "pendidikan" - Google Berita
    https://ift.tt/39N6Kum
    Shoes Man Tutorial
    Pos News Update
    Meme Update
    Korean Entertainment News
    Japan News Update
  • You might also like

    No comments:

    Post a Comment

Tags

9-11 A place to start A to Z AAA Birthday advent Aging Alcohol ink Alex Syberia Design all Altenew Anniversary appliances Arteza articles of faith Ascension audio books Australia Avery Elle Baby card baby kort Baby Names Birch Press Birthday card Blog blitz blogging bokeh book review books boy card Brandt Lassen bushfires C.C. Designs camping caregiving CAS Catholic cats Children's Liturgy Choices Christ the King Christmas Cleaning Clearly besotted clutter Coffee coffee lovers blog hop COMFORT Concord 9th condo Connie Fong copic coloring Couture Creations Crealies Create a smile stamps Creative Expressions crochet dåb Dansk tekst daughter design team developing talents DEVELOPMENT diet Digi Doodles digital image digital stamp distress ink Dixi Craft dogs Doodlebug downsizing dry embossing Dutch Doobadoo Easter Education efterår embossing powder Epiphany Eskarina exercise Faery Ink fairy faith in god fall Family Family history Fars dag Father's day faux stained glass Feast Day Fitbit fødselsdagskort foil friends garden Gerda Steiner Gittes design glimmer paste glitter goals Government Graciellie grand daughter gratitude Guest designer Gummiapan Halloween HEALTH heat embossing heat tool Hello Bluebird Hero Arts hobby Hobbyboden holidays Holy Family infinity shaker ink blending ink smooshing interactive journals Joy! jul Kenny K stamps knitting Lawn Fawn Leane Creatief learning and living the gospel Lemon shortbread Lent life life-change Lil' Inker Lili of the valley Living Love Lucy Abrams Make it crafty Mama Elephant Marianne Designs Maryland Sheep and Wool masculine Max memories Memory Box mermaid minimalism Mo's digital pencil mom moving My Favorite Things my gospel standards nature Nellie Snellen Newton's Nook no-line coloring Nuvo drops Nuvo glaze Nuvo shimmer powder opaque operation skriv hjem OSH Oxide ink oxide inks Panduro Parenting peace peek-a-boo Pendidikan Pentecost pets Pinkfresh Studio planners plants PLAY poem politics Polkadoodles Poppystamps preparing for young women Pretty Pink Posh rainbow Ranger RELATIONSHIPS santa season serving others shaker card shimmer Shimmer powder sick Simon Says Stamp Simple and Basic Sissix Sizzix Sleep slider card sommer son sparkle Spellbinders Stamping Bella stencil Studio Katia Sugar Pea Designs summer Sunny Studios swatching tak tapestry Taylored expressions texture paste thank you The Cat's Pajamas The Greeting Farm The paper Shelter The Virtual Appalachian Trail Hike Three Scoops Tim Holtz Time tips Tonic studios trains transluscent tri-fold Trifold card Trinity Turnabout stamp TV unicorn update Waffle Flower walk Walking Wally watercolor watercolor markers weather Weaving wedding weight Whimsy Stamps winter WOW! wreath yarn