• Pelaku Bullying Diusulkan Dihukum Pendidikan ala Militer - Cendana News

    SEMARANG — Aksi bullying kembali terjadi di Jawa Tengah. Berawal dari  video tindak kekerasan yang viral di media sosial, Rabu (12/2/2020) malam. Dalam video berdurasi 28 detik tersebut, tampak tiga orang siswa laki-laki merundung seorang siswi perempuan di salah satu SMP di Kabupaten Purworejo.

    Mereka menendang dan bahkan memukul si korbannya dengan gagang sapu. Korban yang tampak tidak berdaya hanya menundukkan kepala di mejanya sambil menangis.

    Persoalan ini dipandang serius oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Pihaknya sudah mengutus Kepala Dinas Pendidikan Jateng, untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo demi mengusut kasus ini.

    “Kepolisian juga sudah menerima laporan, sekolah juga sudah ambil tindakan. Saya juga sudah koordinasi dengan pengurus organisasi induk sekolahnya. Jadi sudah saya telponi semua,” kata Ganjar di kantor Gubernuran, Semarang, Kamis (13/2/2020).

    Ganjar juga meminta agar siswa pelaku perundungan diberi konseling dari guru maupun psikolog. Menurutnya, kenakalan siswa sebagaimana tampak dalam video yang viral itu harus diatasi dengan konseling agar perilaku bullying tidak terjadi lagi ke depannya.

    Tidak hanya itu, dirinya juga mengusulkan, agar sekolah tempat terjadinya bullying tersebut ditutup dan dilebur dengan sekolah lain di sekitarnya.

    Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dasar dan Menengah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, sekolah tempat terjadinya bullying  tersebut hanya mendidik 21 siswa yang terbagi dalam tiga rombongan belajar (rombel). Rombel 7 dan 8 masing-masing berisi 6 siswa, adapun rombel 9 terdiri dari 9 siswa. Seluruh murid diampu oleh 8 guru dan 4 tenaga kependidikan.

    Dirinya juga berencana meminta masukan kepada seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan terkait kemungkinan untuk menutup sekolah tersebut atau melebur sekolah berkapasitas murid kecil dengan sekolah di sekitarnya.

    “Mungkin kita harus berani ambil tindakan. Sekarang saya lagi minta regulasinya ditata dan saya minta kepada semua pemangku kepentingan pendidikan, yang begini boleh gak sih dilikuidasi? Saya kira kalau seperti itu, gak ada muridnya atau gak bisa keluar dengan baik, lebih baik ditutup saja atau digabung dengan sekolah kiri kanannya,” tandas Ganjar.

    Meski mengecam pelaku, orang nomor satu di lingkungan Pemprov Jateng tersebut masih mempertimbangkan masa depan pelaku yang masih anak-anak. Dirinya tidak setuju, bila pelaku dikeluarkan.

    “Ada ide dari masyarakat, untuk menghukum para pelaku mengikuti pendidikan ala militer. Ini merupakan ide yang sangat bagus, karena akan lebih mengena, daripada mereka dihukum seperti pelaku pidana lainnya,” terangnya.

    Selain ide menyekolahkan para pelaku ke militer, ada juga pihak yang mengusulkan agar para pelaku dihukum dengan cara sosial. Mengingat, siswa perempuan yang menjadi korban bullying merupakan penyandang disabilitas, maka para pelaku diminta menjadi relawan di yayasan atau rumah difabel. Efek jeranya bisa kena, tapi dengan cara yang baik.

    “Ada pengelola Rumah Disabilitas atau Rumah D di Semarang, kontak saya. Beliau usul para pelaku menjadi relawan di rumah penyandang disabilitas agar mereka bisa mengerti dan muncul kepekaan. Dua usulan ini pantas diberikan kepada para pelaku. Mudah-mudahan, mereka akan tersentuh dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,” tegasnya.

    Tangani Dua Sisi

    Sementara, Ketua Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak (PKPPA) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Dr Arri Handayani MSi mengemukakan, perilaku bullying disebabkan oleh sejumlah faktor, baik dari korban atau pun pelaku.

    Bullying bisa terjadi kepada mereka yang berbeda dengan teman-teman yang lain, untuk korban mungkin pribadi yang tidak percaya diri, sementara pelaku bisa jadi dahulu dia juga korban bullying, kemudian merasa ada orang yang bisa perlakukan demikian, maka jadi obyek balas dendam,” terangnya di kampus UPGRIS Semarang, Kamis (13/2/2020).

    Ketua PKPPA UPGRIS Dr Arri Handayani MSi, saat ditemui di kampus tersebut di Semarang, Kamis (13/2/2020). -Foto: Arixc Ardana

    Disatu sisi, pihaknya juga menduga lingkungan sekolah juga mendukung, dalam artian sebagai sekolah dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, lingkungannya relatif sepi, sehingga mudah dalam melakukan kekerasan atau perundungan.

    Dijelaskan, peran dan pendampingan dari orangtua juga diperlukan untuk memulihkan psikis anak, namun jika trauma yang terjadi terlalu dalam dibutuhkan peran psikolog atau konselor sekolah untuk menanganinya.

    “Sementara untuk pelaku, karena mereka juga masih kategori anak-anak, juga perlu perlakuan khusus. Jangan ditangani dengan cara yang sama untuk pelaku dewasa, karena dikhawatirkan mereka justru akan mendendam, sehinga bisa jadi ketika ada kesempatan lagi, mereka akan melakukan perundungan atau bullying lagi,”pungkasnya.

    Let's block ads! (Why?)



    "pendidikan" - Google Berita
    February 13, 2020 at 10:09PM
    https://ift.tt/38pK0j1

    Pelaku Bullying Diusulkan Dihukum Pendidikan ala Militer - Cendana News
    "pendidikan" - Google Berita
    https://ift.tt/39N6Kum
    Shoes Man Tutorial
    Pos News Update
    Meme Update
    Korean Entertainment News
    Japan News Update
  • You might also like

    No comments:

    Post a Comment

Tags

9-11 A place to start A to Z AAA Birthday advent Aging Alcohol ink Alex Syberia Design all Altenew Anniversary appliances Arteza articles of faith Ascension audio books Australia Avery Elle Baby card baby kort Baby Names Birch Press Birthday card Blog blitz blogging bokeh book review books boy card Brandt Lassen bushfires C.C. Designs camping caregiving CAS Catholic cats Children's Liturgy Choices Christ the King Christmas Cleaning Clearly besotted clutter Coffee coffee lovers blog hop COMFORT Concord 9th condo Connie Fong copic coloring Couture Creations Crealies Create a smile stamps Creative Expressions crochet dåb Dansk tekst daughter design team developing talents DEVELOPMENT diet Digi Doodles digital image digital stamp distress ink Dixi Craft dogs Doodlebug downsizing dry embossing Dutch Doobadoo Easter Education efterår embossing powder Epiphany Eskarina exercise Faery Ink fairy faith in god fall Family Family history Fars dag Father's day faux stained glass Feast Day Fitbit fødselsdagskort foil friends garden Gerda Steiner Gittes design glimmer paste glitter goals Government Graciellie grand daughter gratitude Guest designer Gummiapan Halloween HEALTH heat embossing heat tool Hello Bluebird Hero Arts hobby Hobbyboden holidays Holy Family infinity shaker ink blending ink smooshing interactive journals Joy! jul Kenny K stamps knitting Lawn Fawn Leane Creatief learning and living the gospel Lemon shortbread Lent life life-change Lil' Inker Lili of the valley Living Love Lucy Abrams Make it crafty Mama Elephant Marianne Designs Maryland Sheep and Wool masculine Max memories Memory Box mermaid minimalism Mo's digital pencil mom moving My Favorite Things my gospel standards nature Nellie Snellen Newton's Nook no-line coloring Nuvo drops Nuvo glaze Nuvo shimmer powder opaque operation skriv hjem OSH Oxide ink oxide inks Panduro Parenting peace peek-a-boo Pendidikan Pentecost pets Pinkfresh Studio planners plants PLAY poem politics Polkadoodles Poppystamps preparing for young women Pretty Pink Posh rainbow Ranger RELATIONSHIPS santa season serving others shaker card shimmer Shimmer powder sick Simon Says Stamp Simple and Basic Sissix Sizzix Sleep slider card sommer son sparkle Spellbinders Stamping Bella stencil Studio Katia Sugar Pea Designs summer Sunny Studios swatching tak tapestry Taylored expressions texture paste thank you The Cat's Pajamas The Greeting Farm The paper Shelter The Virtual Appalachian Trail Hike Three Scoops Tim Holtz Time tips Tonic studios trains transluscent tri-fold Trifold card Trinity Turnabout stamp TV unicorn update Waffle Flower walk Walking Wally watercolor watercolor markers weather Weaving wedding weight Whimsy Stamps winter WOW! wreath yarn