• Pegiat Pendidikan Sorot Dana BOS, Parameternya Harus Terukur - Siedoo Indonesia

    JAKARTA - Skema baru bagi BOS reguler yang dikeluarkan Kemendikbud memberikan dampak besar, bukan hanya bagi guru non ASN, melainkan juga bagi sekolah. Pemberian BOS langsung ke rekening sekolah ini secara tidak langsung memaksa sekolah untuk memiliki sistem tata kelola yang baik.

    Pegiat pendidikan, Asep Sapa’at mengungkapkan, pendidikan adalah investasi. Karena itu yang harus dipastikan adalah tanggung jawab moral pengelola dana agar semua dana bantuan yang telah dikeluarkan pemerintah bisa dipertanggungjawabkan.

    “Biaya apapun yang dikeluarkan terkait pendidikan, ini bicaranya harus paradigmanya investasi. Maka kalau bicara investasi harus ada parameter yang terukur. Perubahan seperti apa yang diharapkan dengan adanya kucuran dana sebesar itu,” tutur Asep.

    Kebijakan ini, lanjut Asep, menjadi momen yang sangat penting untuk menguji kapasitas kepala sekolah di bidang kepemimpinan dan tata kelola sekolah. Dalam bidang kepemimpinan bisa dilihat dari visi dan strategi yang dimiliki kepala sekolah tersebut.

    “Jika kepala sekolah tidak memahami apa tujuannya artinya berbahaya, dalam arti berapapun anggaran yang dikucurkan tidak paham digunakan untuk apa. Kalau bicara tentang visi sebenarnya sudah tahu apa yang dilakukan dan kita harus ingat dan sadari bersama bahwa uang itu salah satu bantuan untuk peningkatan sumber daya,” jelas Asep.

    Dijelaskan, kemudian yang kedua bicara soal manajerial tata kelola tersebut, ia sepakat hari ini ketika transfernya langsung ke sekolah, akan bisa melihat mana kepala sekolah yang betul-betul mengelola guru, murid, pembelajaran, sarana prasarana maupun anggaran lain.

    “Jadi bisa kita lihat bagaimana profil kepala sekolah yang kita miliki dalam aspek kepemimpinan dan manajerialnya,” imbuh Asep.

    Selain peningkatan persentase untuk guru non ASN, menurut Asep, yang tidak kalah penting adalah kemerdekaan guru dalam mengembangkan profesionalismenya. Karena, hal ini berdampak pada anak didik. Harapannya anggaran yang besar ini dapat menghasilkan sumber daya manusia unggul.

    Dikatakan Asep, ada 4 kategori sekolah. Kategori pertama yaitu sekolah kalah. Sekolah yang kalah itu sekolah yang tingkat ketercapaian tujuan sekolah, program visi sekolah kecil dan sekolah ini tidak punya strategi.

    Kategori kedua yaitu sekolah beruntung. Sekolah ini mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi, misalnya memiliki lulusan bagus dan guru bagus tapi tidak punya strategi. Sekolah-sekolah kategori ini sebenarnya punya peluang tipis untuk bisa mencapai keberhasilan di tahun-tahun berikutnya.

    Selanjutnya, Kategori ketiga adalah sekolah belajar. Sekolah belajar adalah sekolah yang tingkat keberhasilannya masih kecil tapi sudah punya strategi sehingga selalu melakukan evaluasi setiap tahun.

    Kategori terakhir yaitu sekolah pemimpin. Sekolah ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi di mana ada capaian target tinggi.

    “Ada beberapa parameter. Yang pertama adalah tata kelola jadi sekolah itu sudah punya satu sistem yang memang sudah fix misalkan sistem proses pengembangan profesionalisme gurunya, bagaimana sistem pengembangan minat dan bakat anak, bagaimana peningkatan kualitas pembelajaran dan aspek-aspek lain menjadi punya satu sistem tata kelola yang fix dan itu terus ditingkatkan. Saya ingin bisa melihat hasil pembelajaran,” terang Asep.

    Sementara itu Pembina Federasi Guru dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia, Didi Suprijadi mengungkapkan, dalam skema kebijakan dana BOS terdahulu banyak guru yang tidak mau menjadi kepala sekolah karena sangat sulit mengelola keuangan sekolah. Sehingga, harus melakukan berbagai manuver untuk menutupi operasional sekolah.

    Ia mengingat kembali penyaluran BOS yang terdahulu. “Turunnya uang itu sekitar bulan Maret. Bagaimana harus bayar listrik dan ada yang rusak harus diganti? Belum lagi yang paling sedih adalah alokasi guru honorer 15 persen juga bukan khusus untuk guru honorer tetapi untuk belanja pegawai,” katanya.

    “Judulnya belanja pegawai kalau belanja pegawai honorer itu paling terakhir nanti kalau ada sisa. Guru honorer ini ya karena masuknya kepada belanja pegawai sering tidak kebagian, mengakibatkan guru honorer didapatnya ada yang 300. Bayangkan Rp 300.000 per bulan dibayar 3 bulan sekali itu di akhir,” tambah Didi.

    Yang lebih rawan lagi ini, lanjutnya, kepala sekolah mencari talangan.

    “Talangannya ke mana? Kadang-kadang ke rekanan. Kalau kata rekanan boleh dibayar dulu tapi harganya yang maksimal sesuai dengan e-budgeting,” imbuh Didi. (Siedoo)

    Ads Samanata

    Let's block ads! (Why?)



    "pendidikan" - Google Berita
    February 20, 2020 at 02:20PM
    https://ift.tt/2V6HDOc

    Pegiat Pendidikan Sorot Dana BOS, Parameternya Harus Terukur - Siedoo Indonesia
    "pendidikan" - Google Berita
    https://ift.tt/39N6Kum
    Shoes Man Tutorial
    Pos News Update
    Meme Update
    Korean Entertainment News
    Japan News Update
  • You might also like

    No comments:

    Post a Comment

Tags

9-11 A place to start A to Z AAA Birthday advent Aging Alcohol ink Alex Syberia Design all Altenew Anniversary appliances Arteza articles of faith Ascension audio books Australia Avery Elle Baby card baby kort Baby Names Birch Press Birthday card Blog blitz blogging bokeh book review books boy card Brandt Lassen bushfires C.C. Designs camping caregiving CAS Catholic cats Children's Liturgy Choices Christ the King Christmas Cleaning Clearly besotted clutter Coffee coffee lovers blog hop COMFORT Concord 9th condo Connie Fong copic coloring Couture Creations Crealies Create a smile stamps Creative Expressions crochet dåb Dansk tekst daughter design team developing talents DEVELOPMENT diet Digi Doodles digital image digital stamp distress ink Dixi Craft dogs Doodlebug downsizing dry embossing Dutch Doobadoo Easter Education efterår embossing powder Epiphany Eskarina exercise Faery Ink fairy faith in god fall Family Family history Fars dag Father's day faux stained glass Feast Day Fitbit fødselsdagskort foil friends garden Gerda Steiner Gittes design glimmer paste glitter goals Government Graciellie grand daughter gratitude Guest designer Gummiapan Halloween HEALTH heat embossing heat tool Hello Bluebird Hero Arts hobby Hobbyboden holidays Holy Family infinity shaker ink blending ink smooshing interactive journals Joy! jul Kenny K stamps knitting Lawn Fawn Leane Creatief learning and living the gospel Lemon shortbread Lent life life-change Lil' Inker Lili of the valley Living Love Lucy Abrams Make it crafty Mama Elephant Marianne Designs Maryland Sheep and Wool masculine Max memories Memory Box mermaid minimalism Mo's digital pencil mom moving My Favorite Things my gospel standards nature Nellie Snellen Newton's Nook no-line coloring Nuvo drops Nuvo glaze Nuvo shimmer powder opaque operation skriv hjem OSH Oxide ink oxide inks Panduro Parenting peace peek-a-boo Pendidikan Pentecost pets Pinkfresh Studio planners plants PLAY poem politics Polkadoodles Poppystamps preparing for young women Pretty Pink Posh rainbow Ranger RELATIONSHIPS santa season serving others shaker card shimmer Shimmer powder sick Simon Says Stamp Simple and Basic Sissix Sizzix Sleep slider card sommer son sparkle Spellbinders Stamping Bella stencil Studio Katia Sugar Pea Designs summer Sunny Studios swatching tak tapestry Taylored expressions texture paste thank you The Cat's Pajamas The Greeting Farm The paper Shelter The Virtual Appalachian Trail Hike Three Scoops Tim Holtz Time tips Tonic studios trains transluscent tri-fold Trifold card Trinity Turnabout stamp TV unicorn update Waffle Flower walk Walking Wally watercolor watercolor markers weather Weaving wedding weight Whimsy Stamps winter WOW! wreath yarn